Labulianews.id, Amal Fathullah Zarkasyi lahir pada 4 November 1947 di Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Ia adalah putra dari Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Sejak kecil, Amal menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat desa Gontor (lulus 1963) dan menengah di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Jetis (lulus 1965). Ia melanjutkan studi ilmu agama di Madrasah Kulliyat al-Mu'allimin al-Islamiyyah Gontor (kini Pondok Modern Darussalam Gontor) dan lulus pada 1969.
Pendidikan tingginya mencakup gelar Sarjana Muda (B.A.) dari Institut Pendidikan Darussalam Gontor pada 1973, Sarjana Perbandingan Agama dari IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 1978, Magister Filsafat Islam dari Universitas Kairo, Mesir (1987) dengan tesis Al-Ittijah as-Salafi fi Fikril Islami al-Haditsah bi Indunisiya, serta Doktor 'Aqidah dan Pemikiran Islam dari Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Malaysia (2006). Disertasinya berjudul Konsep Tauhid Ibn Taymiyyah dan Pengaruhnya di Indonesia: Studi Kasus tentang Pengumbulan Kurikulum Pengajaran Akidah di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Sebagai akademisi spesialis ilmu Kalam, perbandingan agama, dan teologi Islam, Amal mengabdi sejak 1969 di Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia mengajar di Institut Pendidikan Darussalam (1978–1980), menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin (1988–2000), Pembantu Rektor III ISID (1996–2000), serta Pembantu Rektor IV (2006–2014). Ia berperan krusial dalam transformasi ISID menjadi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor).
Pada 2014, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Kalam dan Rektor pertama UNIDA Gontor hingga 2020. Setelah wafatnya Abdullah Syukri Zarkasyi dan Syamsul Hadi Abdan, Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor menunjuknya sebagai pimpinan lembaga tersebut pada 2020.
Amal menekankan peran Ilmu Kalam dalam melindungi 'aqidah dari keraguan kontemporer, seperti ateisme atau sekularisme. Ia mengkritik pendekatan modern yang deskriptif-historis karena berpotensi meruntuhkan struktur keimanan.
Menurutnya, kajian Kalam harus mengukuhkan hakikat agama (keberadaan Tuhan, kenabian, akhirat) dengan dua metode utama: filsafat rasional (berbasis insting, etika, sosial) dan ilmiah (eksperimen empiris), di bawah kerangka epistemologi Islam yang bebas dari skeptisisme, pragmatisme, relativisme, atau sekularisme.
Selain itu, ia mempromosikan pola pendidikan mu'allimin yang mengintegrasikan kurikulum agama dan umum untuk pesantren mu'adalah. Ia menjabat Ketua Umum Forum Komunikasi Pesantren Mu'adalah, sejalan dengan UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Amal aktif di forum internasional, seperti seminar di Penang (1989), Jakarta (2003), Kuala Lumpur (2007), Maroko (2008), Yaman (2009), Thailand (2010), dan Sarajevo (2010).
Beberapa karyanya meliputi:Theology Hindu Dharma dan Islam (1996)Manhaj al-Bahth al-Falsafi (1997)'Ilmu Kalam (1998)al-Salaf wa al-Salafiyyah fi al-Fikr al-Silami (2002)Nazariyah al-Fana’ ‘inda Abi Yazid al-Bustami (2003)al-Ittijah al-Salafi al-Fikr al-Islami al-Hadith bi Indonesiya (2006)Aqidah al-Tawhid ‘inda al-Falasifah wa al-Mutakallimin wa al-Sufiyah (2009)

