Opini: Kegagalan Manajemen Kepala Desa Babussalam: Pemukiman Semrawut dan Pelayanan Amburadul
Oleh: Alsah
Ruas jalan Babussalam, Gerung, Lombok Barat, kini menjadi cermin nyata dari ketidakmampuan manajemen kepala desa dalam menjalankan roda pemerintahan desa. Pemukiman yang semrawut, ditambah tumpukan sampah yang menggunung di pinggir jalan, bukan hanya mengganggu estetika lingkungan, tapi juga menimbulkan risiko kesehatan bagi warga.
Ironisnya, Desa Babussalam berbatasan langsung dengan ibu kota pemerintahan Lombok Barat, yang seharusnya menjadi etalase kemajuan desa. Namun, kenyataan justru sebaliknya: penataan pemukiman semakin tak terurus, meninggalkan kesan bahwa desa ini terabaikan di tengah hiruk-pikuk pembangunan daerah.Kegagalan ini bukan sekadar kelalaian kecil, melainkan bukti lemahnya kepemimpinan.
Pelayanan publik di desa pun jauh dari maksimal. Warga sering mengeluh karena kepala desa jarang berada di ruang kerja atau kantor desa saat dibutuhkan. Absennya pemimpin ini bukan hanya menyulitkan urusan administratif, tapi juga menunjukkan ketidakseriusan dalam menjalankan amanah. Belum lagi jarangnya kunjungan kerja (ngator) kepala desa ke pelosok desa, yang seharusnya menjadi contoh teladan bagi aparatur dan warga.
Penataan kantor desa sendiri tak kunjung berubah—malah semakin porak-poranda, dengan fasilitas yang kumuh dan tidak mendukung pelayanan prima.bSudah saatnya warga Desa Babussalam bersuara lantang menuntut perubahan. Kepala desa harus segera hadir secara fisik dan mental, membersihkan sampah, merapikan pemukiman, serta membenahi kantor desa agar layak.
Pemerintah kabupaten juga perlu turun tangan dengan pengawasan ketat dan evaluasi kinerja. Desa yang strategis seperti Babussalam tak boleh lagi jadi titik lemah Lombok Barat—mari wujudkan pemerintahan desa yang benar-benar pro-rakyat!
Babussalam, 1 Januari 2026
Alsah..

