Umpan Sembako di Sekotong: Saat Hoaks Penculikan Lebih Cepat dari Curas
Labulianews.id. Rabu sore, 5 Agustus 2026, di berugak depan rumah Dusun Gunung Kosong, Desa Sekotong Tengah, seorang pemuda 19 tahun duduk santai. Seorang pria tak dikenal menghampiri. Bukan menculik, katanya. Hanya menemani mengambil bantuan sembako di Dusun Repok Gapuk. Ada uang Rp200.000 sebagai "uang lelah".
Empat jam kemudian, kabar "penculikan anak" sudah berlari lebih cepat dari sepeda motor di grup WhatsApp dan TikTok warga Sekotong. Polisi harus mengejar dua hal sekaligus: pelaku, dan kepanikan.
Klarifikasi di Tengah Viral.
Polsek Sekotong bergerak begitu melihat unggahan. Kapolsek Iptu I Ketut Suriarta memerintahkan anggotanya turun ke Dusun Gunung Kosong malam itu juga.
"Begitu menerima informasi yang beredar di media sosial, personel langsung mendatangi lokasi untuk memastikan fakta yang sebenarnya," kata Ketut.
Hasilnya berbeda jauh dari yang viral. Tidak ada penculikan. Yang terjadi adalah pencurian dengan kekerasan. Korban dipaksa menyerahkan ponsel di jalan sepi Jurang Dalang, Dusun Lemer, Desa Buwun Mas, setelah dibonceng dengan Suzuki Satria FU merah.
Korban sempat melawan. Pelaku mendorongnya hingga jatuh. Telapak tangan lecet, badan memar. Ponsel raib. Pelaku kabur.
"Informasi mengenai penculikan tersebut tidak benar. Kejadian yang sebenarnya adalah tindak pidana curas dengan modus membujuk korban menggunakan iming-iming bantuan sembako dan uang," jelas Ketut.
Laporan resmi dibuat korban bersama orang tua dan Kepala Dusun Gunung Kosong di Mapolsek Sekotong.
Bagi polisi, polanya tidak asing: janji bantuan, ajakan ke tempat sepi, lalu perampasan. Yang membuat kasus ini ramai adalah kecepatan hoaks menyebar sebelum fakta.
Kapolres Lombok Barat AKBP Mellysa Amalia menekankan, klarifikasi cepat dilakukan agar keresahan tidak berlarut. Sekaligus memastikan korban mendapat pendampingan hukum.
Kini Unit Reskrim masih memburu pelaku. Polisi mengumpulkan keterangan saksi dan menelusuri identitas sepeda motor yang dipakai.
Di luar proses penyidikan, Polsek Sekotong menambah patroli di jam-jam rawan, termasuk ke lingkungan sekolah. Tujuannya satu: memutus rantai modus yang menyasar anak dan remaja.
"Kami mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar selalu mengawasi aktivitas anak-anak serta memberikan pemahaman. Supaya tidak mudah percaya kepada orang yang baru dikenal, terlebih apabila diajak pergi dengan janji pemberian uang atau bantuan tertentu," ujar Ketut.
Pesan yang sama disampaikan untuk seluruh warga: jangan mudah meneruskan informasi yang belum terverifikasi. Di era satu unggahan bisa memicu kepanikan satu kecamatan, polisi menyebut literasi digital kini menjadi bagian dari keamanan.
Hingga berita ini ditulis, pelaku masih dalam pengejaran. Sementara di Gunung Kosong, berugak tempat korban pertama kali diajak pergi itu kini lebih sepi. Warga memilih menunggu di rumah, sampai polisi memastikan siapa yang berikutnya datang membawa janji sembako.

