Haflah di Tengah Kesederhanaan: 54 Bintang Kecil TK IT Zayna Lepas Angkatan III
Labulianews.id. — Tidak ada panggung megah, tidak ada karpet merah. Hanya gedung TK yang dipenuhi balon, tawa, dan sesekali isakan tertahan. Di sanalah, Sabtu, 27 Juni 2026, TK IT Zayna Lombok melepas 54 siswa-siswi TK B angkatan ketiganya.
Dengan tema _“Berakhlak Islami, Generasi Cerdas, dan Ceria”_, Haflah Akhirussanah tahun ajaran 2025/2026 itu berlangsung sederhana. Namun kesederhanaan justru menjadi bahasa utama hari itu: tulus, dekat, dan menyentuh.
Di bangku barisan depan duduk para orang tua, kakek, nenek, hingga paman dan bibi. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan, tapi untuk menjadi saksi bahwa anak-anak yang setahun lalu masih enggan lepas dari pelukan ibu, kini berdiri tegak, fasih melantunkan surat-surat pendek Juz 'Amma, dan hafal bacaan sholat
Kepala Sekolah TK IT Zayna, Zulqoidah, S.Pd, membuka sambutannya dengan nada haru. Di hadapannya, deretan wisudawan kecil dengan toga mini duduk rapi.
“Alhamdulillah, anak-anak kami menutup masa belajar dengan keceriaan. Kami titipkan tiga hal: ilmu, akhlak, dan cinta Al-Qur’an. Itu bekal mereka ke SD nanti,” ujar Zulqoidah.
Ia menoleh ke barisan wali murid. “Tanpa kepercayaan Bapak-Ibu, perjalanan ini tidak akan seindah ini. Terima kasih telah menjadi mitra terbaik kami.”
Kalimat itu disambut anggukan. Di TK IT Zayna, relasi guru dan orang tua memang tak berjarak. Komunikasi terbuka, tanpa sekat birokratis. Itu yang berulang kali disebut para wali murid dalam unggahan Facebook mereka malam itu.
Salah satu wali murid, Bapak Sukiman, M.Pd, mewakili suara orang tua. Ia tak banyak bicara soal seremoni. Ia bicara soal perubahan.
“Anak yang dulu tidak mau lepas dari ibu, sekarang disiplin sholat, jujur, berani bersosialisasi. Dalam setahun, Ananda sudah lancar calistung dasar dan hafal banyak surat pendek,” katanya.
Ia menutup dengan harapan: agar TK IT Zayna tetap istiqamah mencetak generasi Qur’ani dan menjadi teladan pendidikan Islam usia dini, bukan hanya di Lombok, tapi Indonesia.
Apresiasi itu bukan basa-basi. Di media sosial, para orang tua menuliskan hal serupa: nyaman, kekeluargaan, anak tidak pernah bosan karena belajar sambil bermain. “Semoga jadi ladang pahala jariyah bagi semua guru,” tulis salah satunya.
Ruang Penuh Pelukan
Rangkaian acara berjalan tertib: pembukaan, sambutan, lalu sesi foto bersama. Di sesi terakhir itulah bendungan emosi jebol. Guru memeluk murid. Orang tua mengusap kepala anaknya. Kamera ponsel merekam, tapi tak ada yang sibuk dengan angle terbaik.
Gedung TK yang biasanya riuh oleh suara bermain, sore itu riuh oleh kebersamaan lintas generasi.
Tidak ada kemewahan visual. Yang ada hanya senyum siswa, air mata orang tua, dan pelukan guru yang enggan dilepas.
Bagi TK IT Zayna, mungkin itulah definisi kelulusan: ketika 54 anak pulang membawa lebih dari sekadar ijazah. Mereka membawa akhlak, hafalan, dan keberanian untuk melangkah ke babak baru.
Dan bagi para orang tua, hari itu adalah pengingat: pendidikan terbaik kadang lahir dari tempat yang paling sederhana.

