Opini: Intelijen dan Akal Sehat Negara VS Ketika Rencana Demo Menguap di Udara
Oleh: Amaq Zubair
Ada yang menarik pada hatri Jumat, 31 Oktober 2025.Hari itu semestinya menjadi panggung besar bagi berbagai aliansi LSM, mahasiswa, tenaga honorer, dan kelompok masyarakat yang mengancam akan “mengepung” kantor Bupati Lombok Barat. Isunya? Pemecatan 1.600 tenaga honorer. Sebuah angka yang memang mengusik empati publik, tapi ternyata, drama besar itu tidak pernah benar-benar terjadi.
Yang muncul bukan lautan massa, melainkan keheningan yang sesekali beberapa suara lantang daromi segelintir orang yang sudah kadung datang disini justru terligat Yang bergerak bukan para demonstran, melainkan intelijen yang cerdas.
Polisi dan TNI sebagai garda terdepan dalam menjamin keamanan dan ketertiban telah berhasil melaksanakan tugas dan fungsinya melalui kerja senyapnya yang terukur dan humanis. seolah olah telah berhasil mengembosi balon besar yang ditiup dengan penuh emosi. Tidak ada benturan. Tidak ada chaos. Tidak ada simbol perlawanan. Yang ada hanyalah fakta bahwa negara bekerja dengan tenang, sementara para penggagas aksi kehilangan daya.
Inilah kehebatan strategi intelijen, mereka tak menunggu ricuh untuk bertindak, tapi menanam akal sebelum situasi menjadi bencana.
Kalau di dunia politik, mereka disebut “the invisible hand”; di dunia keamanan, mereka adalah the thinking hand, tangan yang berpikir lebih cepat daripada mulut yang berteriak.
Langkah Bupati Lombok Barat sendiri tampak sejalan dengan logika negara modern. Ia menertibkan struktur yang selama ini gemuk oleh tenaga honorer tanpa dasar hukum dan tanpa sumber gaji yang jelas.
Apakah itu pahit? Ya. Tapi kebijakan publik memang tidak diukur dari rasa manis yang bisa dinikmati segelintir orang, melainkan dari dosis akal sehat untuk keselamatan masyarakat banyak serta sehatnya roda pemerintahan dalam menjalankan tugas dan fungsinya untuk mensejahterakan rakyatnya.
Namun yang paling menarik justru bukan pada langkah Bupati atau operasi intelijennya, melainkan pada pertanyaan filosofis yang tersisa:
Ke mana para LSM yang dulu begitu lantang berbicara atas nama rakyat?
Ke mana mahasiswa yang dulu bersumpah menjaga nurani bangsa?
Ke mana tenaga honorer yang konon dirugikan oleh sistem?
Apakah mereka mulai sadar bahwa kebenaran tidak selalu berseberangan dengan pemerintah?
Ataukah mereka mulai kehilangan kepercayaan pada para “penggembala opini” yang sering mengaku berjuang untuk rakyat, tapi hidup dari gaduhnya isu?
Realitas hari itu sederhana tapi telak, ketika rakyat tidak lagi hadir, maka agitasi kehilangan ruh. Dan ketika aparat intelijen mampu membaca psikologi sosial dengan presisi, maka negara sedang belajar berpikir dengan akal sehat.
Bisa jadi, di masa depan, buku strategi keamanan kita akan menulis bab baru:
“Cara Menghadapi Aksi Tanpa Harus Menghadapi Aksi.”
Dan mungkin, bagi para LSM yang gagal konsolidasi, inilah saatnya merenung, bahwa kredibilitas bukan dibangun dari undangan aksi, melainkan dari kepercayaan publik yang lahir dari konsistensi moral.
Karena pada akhirnya, kekuatan sejati bukan terletak pada jumlah massa di jalan, tetapi pada kemampuan pemda, Polisi dan TNI memahami arah pikiran masyarakat sebelum mereka melangkah keluar rumah.
Negara yang mampu berpikir seperti itu, barulah benar-benar cerdas.
Salutttt buat TNI POLRI. BRAVO JAGA TERUS KEUTUHAN AKAL SEHAT DAN NKRI

