MTQ Bukan Panggung Konser
Oleh: Lalu Habiburrahman
Opini: Penutupan MTQ Provinsi NTB di Lombok Tengah 16 Juni 2026 seharusnya jadi momen sakral. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Setelah dibuka dengan tarian, acaranya ditutup konser penyanyi pop nasional. Khusyuknya mengaji kalah sama hiruk pikuk musik.
Forum Peduli Pembangunan dan Pelayanan Publik NTB, FP4 NTB, langsung angkat suara. Lewat Direktur Lalu Habiburrahman, mereka bilang: Al-Qur’an itu sendiri sudah penyejuk hati. Nggak butuh embel-embel konser biar terasa megah.
1. Roh MTQ tergeser.
"Acara mengaji kok puncaknya konser pop?" Sindiran itu menusuk. Kalau tujuannya biar ramai dan megah, target tercapai. Tapi yang dikorbankan justru ketenangan dan kesucian yang jadi ruh MTQ.
2. Yang diingat jadi salah fokus.
Masalahnya bukan di musiknya. Musik, tari, seni, sah-sah saja. Tapi tempatnya keliru. Ketika konser ditaruh di akhir sebagai puncak, yang pulang di kepala penonton bukan ayat-ayat suci atau pesan moral. Yang diingat: serunya nyanyi bareng artis pop. Anak muda apalagi, fokusnya bisa langsung geser.
3. Kekinian tanpa kehilangan jati diri.
FP4 NTB nggak anti hiburan. Habib sapaan Lalu Habiburrahman menegaskan itu. Kritik ini soal menaruh sesuatu di tempatnya. MTQ bukan festival budaya umum, bukan juga konser HUT daerah. Ini ruang untuk mendekatkan umat ke Al-Qur’an.
Penutup
Alasannya “biar kekinian” atau “biar yang datang banyak” bisa dimengerti. Tapi kalau nilai spiritualnya hilang, kita lagi ngapain? Memuliakan Al-Qur’an, atau bikin panggung hiburan berkedok acara agama?
Sudah saatnya panitia dan pemda merenung ulang. Kemeriahan boleh, tapi jangan sampai mengaburkan kekhusyukan. Karena yang membuat MTQ mulia bukan lampunya, bukan artisnya. Tapi lantunan ayat yang menenangkan hati yang gersang.
Kamu setuju nggak kalau konsep MTQ ke depan harus dikembalikan ke esensinya?

