Gocekan di Kecamatan Gangga, Tamparan untuk Wibawa Hukum
Labulianews. id (14/6/2026) Dari jalan utama Gangga, Dusun Beriri Jarak di Desa Sambik Bangkol tampak tenang. Sawah menghampar, rumah berjajar, anak-anak berlalu lalang. Tapi begitu masuk lebih dalam, ketenangan itu pecah oleh teriakan, tawa, dan kokok ayam aduan. Di sanalah lapak gocekan — judi sabung ayam — digelar setiap pekan, terang-terangan, tanpa tirai.
“Warga sudah bersuara. Keluhan dilayangkan. Tapi lapak tetap buka, arena tetap penuh. Hukum seakan berhenti di batas jalan masuk dusun,” kata Lalu Habib, Direktur PF4 NTB.
Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia tudingan. PF4 NTB menduga ada pembiaran, bahkan backing dari oknum aparat penegak hukum. Jika benar, persoalannya naik kelas: bukan lagi soal berapa banyak uang yang berpindah di atas gelanggang, melainkan seberapa rapuh wibawa hukum ketika bisa dinego di ujung kampung.
Kerusakannya, menurut Habib, kasatmata. Uang belanja ludes di adu ayam. Konflik keluarga meletus. Kekerasan terhadap hewan jadi tontonan yang dinormalisasi. “Membiarkan arena ini hidup berarti membiarkan penyakit sosial mengakar di desa,” ujarnya.
Habis sudah waktu untuk imbauan. PF4 NTB kini mengirim surat resmi ke Kapolda NTB, tembusan Mabes Polri. Tuntutannya lugas: penindakan, terbuka, tanpa pilih kasih. Kapolda, kata Habib, harus turun langsung. Periksa siapa yang main, dan siapa yang menutup mata.
“Kapolda harus tegas dan tindak,” tegasnya.
Hukum tak boleh kalah oleh deru sayap ayam. Itu pesan PF4 NTB. Jika Beriri Jarak terus dibiarkan, skenarionya mudah ditebak: besok akan tumbuh gocekan baru di tempat lain, dengan dalih yang sama — sudah biasa, sudah ada yang jaga.
Hingga berita ini diturunkan, Kasat Reskrim Polres Lombok Utara IPTU I Komang Wilandra, S.H., M.H. yang dikonfirmasi media mengatakan ok pak karena vidio ini juga sudah saya terima nanti kami komunikasi dengan katim puma. Sementara itu, kokok ayam di Beriri Jarak masih terdengar tiap pekan, menampar di atas sunyinya kampung, tutup Lalu Habib. (mt)

