Silak Bareng-Bareng Berkerise, Saripul Mian Tawarkan Desa Dakung Digital
Labulianews.id. Pagi di Dusun Dakung, Kecamatan Praya, masih disambut suara motor petani yang keluar masuk jalan desa. Di tengah keramaian itu, Saripul Mian berhenti. Ia menyalami bapak-bapak yang baru pulang dari sawah, menanyakan harga cabai, lalu duduk sebentar di berugak mendengar keluhan irigasi yang mampet.
Pemandangan sederhana itu yang membuat namanya belakangan sering disebut warga. Saripul Mian, 2026–2034, maju sebagai bakal calon kepala desa. Di mata tetangganya, ia bukan figur baru. Bertahun-tahun ia dikenal sebagai orang yang datang tanpa undangan: saat ada gotong royong, saat ada warga sakit, saat anak muda butuh tempat berkumpul.
"Saya tidak mau jadi kepala desa yang baru kelihatan saat kampanye," kata Saripul, 24 Agustus 2026. "Kalau mau membangun, ya harus bareng-bareng. Silak bareng-bareng berkerise untuk Desa Dakung tercinta."
Kalimat dalam bahasa Sasak itu menjadi jargon kampanyenya. _Berkerise_ berarti bergotong royong. Bagi Saripul, kata itu bukan slogan. Ia menjadikannya kerangka kerja.
Dari Sapaan ke Program
Visi yang ia usung terdengar umum: "Mewujudkan Desa Dakung yang maju, sejahtera, dan aman." Yang membedakannya ada di enam misi yang ia turunkan, dan semuanya berangkat dari obrolan di warung dan di sawah.
1. Ekonomi rakyat. Saripul ingin memotong rantai distribusi hasil pertanian. Ia mengusulkan posko pemasaran desa dan pelatihan pengemasan untuk UMKM, agar cabai, bawang, dan kerajinan lokal Dakung tidak hanya dijual ke tengkulak.
2. Pelayanan cepat. Ia berjanji memangkas birokrasi. Surat menyurat harus selesai dalam hitungan hari, bukan minggu. Transparansi anggaran desa akan ditempel di papan informasi dan grup WhatsApp dusun.
3. Infrastruktur dasar. Jalan usaha tani dan saluran irigasi menjadi prioritas. "Tanpa air dan jalan, mau jual apa petani?" ujarnya.
4. Desa digital. Ia menargetkan literasi digital sampai ke ibu PKK dan karang taruna. Tujuannya sederhana: warga bisa mengurus administrasi online dan anak sekolah bisa belajar tanpa harus ke kota.
5. Internet terjangkau. Titik wifi desa direncanakan di balai dan sekolah. Menurutnya, koneksi murah adalah prasyarat agar misi digital tidak jadi wacana.
6. Ruang untuk pemuda. Saripul ingin balai desa hidup di malam hari: ada pelatihan, diskusi, dan dana kecil untuk inisiatif anak muda.
Keenam poin itu ia bungkus dengan empat nilai: transparansi, amanah, inovatif, dan partisipatif. "Bekerise untuk membangun desa, bersama untuk masa depan yang lebih baik," katanya.
Ujian di Lapangan
Dakung bukan desa tanpa persoalan. Jalan yang rusak saat hujan, harga pupuk yang naik, dan migrasi pemuda ke Mataram masih jadi pekerjaan rumah. Di sinilah gaya Saripul diuji: apakah kedekatan personal cukup untuk menerjemahkan janji menjadi anggaran dan kebijakan.
Warga menyambut. Di beberapa dusun, spanduk "Silak Bareng-bareng Berkerise" sudah dipasang. Tapi sambutan bukan jaminan suara. Pilkades 2026 diprediksi ramai, dan pemilih Dakung dikenal pragmatis. Mereka akan menimbang: siapa yang paling sering hadir, dan siapa yang paling jelas hitung-hitungannya.
Saripul memilih jalur bawah. Tidak banyak konferensi pers. Lebih banyak nongkrong, mendengar, mencatat.
Di akhir obrolan, ia pamit membantu menurunkan beras bantuan. Seorang ibu menepuk bahunya, "Jangan lupa janji internetnya, Pak." Saripul tertawa, mengangguk.
Apakah gaya kepemimpinan yang dekat seperti itu bisa mengubah wajah Dakung dalam delapan tahun? Jawabannya ada di bilik suara, dan setelah itu, di panjangnya kerja gotong royong yang ia sebut _berkerise_.
Sugianto.
Reporter Labulianews.id

