OPINI: MANDALIKA KEHAUSAN DI TENGAH PESTA MOTOGP
_Wisatawan datang mencari keindahan, yang didapat debu, panas, dan air yang menetes._
Oleh: Lalu Habiburrahman
Direktur FP4 NTB*
Ada ironi yang pahit di Kuta Mandalika. Di saat sirkuit Mandalika bersolek menyambut raungan MotoGP, para penghuni homestay, kos-kosan, dan penginapan di sekitarnya mengeluh kehausan.
Seorang wisatawan asal Kalimantan yang datang untuk liburan sekaligus menonton MotoGP bercerita jujur: air bersih di penginapannya terbatas. Mengalir kecil, kadang mati. Ia menduga dua penyebab: kemarau panjang, dan debit air yang berkurang karena gunung-gunung yang dulu hijau kini gundul, beralih fungsi menjadi vila-vila.
Keluhannya belum selesai. Suhu panas yang menyengat disertai debu yang beterbangan di sepanjang jalan. Debu masuk ke penginapan, mengganggu pernapasan. Liburan yang seharusnya menyegarkan paru-paru, justru menyesakkan.
Hingga hari ini, kata dia, belum ada upaya dari pemerintah setempat. Tidak ada penyiraman jalan berdebu, tidak ada perawatan tanaman penghijauan.
Jika cerita ini benar, maka kita sedang menyaksikan paradoks pariwisata Lombok.
Kita berhasil menjual Mandalika ke dunia. Kita membangun sirkuit kelas dunia, hotel berbintang, vila-vila di atas bukit. Tapi kita gagal menyediakan hal paling dasar: air dan udara bersih.
Ini bukan keluhan musiman. Ini alarm ekologis.
Gunung gundul yang disebut wisatawan itu bukan isu baru. Alih fungsi lahan di lingkar Mandalika terjadi masif dalam lima tahun terakhir. Bukit yang dulu menjadi tandon air alami, penahan angin, dan paru-paru kawasan, kini dicukur untuk fondasi vila. Akibatnya logis: ketika hujan tak ada serapan, ketika kemarau tak ada cadangan. Debit air turun. Mata air mati.
Pemerintah lalu sibuk menyalahkan kemarau. Padahal kemarau selalu datang. Yang berbeda adalah, dulu kita punya hutan penyangga. Sekarang tidak.
Kedua, soal debu. Mandalika adalah Kawasan Ekonomi Khusus. Truk material lalu lalang, pembangunan kebut-kebutan menjelang event. Jalan berdebu adalah bukti pembangunan yang tidak punya manajemen lingkungan. Penyiraman jalan seharusnya SOP paling dasar di kawasan konstruksi. Jika itu saja tidak dilakukan, bagaimana kita bisa bicara pariwisata berkelanjutan?
Wisatawan MotoGP datang dengan ekspektasi Bali baru. Yang mereka dapat adalah pengalaman seperti di proyek tambang: panas, berdebu, dan harus antri air untuk mandi.
Pemerintah daerah tidak boleh diam. Ada tiga hal mendesak:
1. Audit air baku. Berapa kebutuhan riil homestay dan penginapan di Kuta saat event? Berapa kapasitas PDAM dan sumur dalam yang tersedia? Jangan semua dibebankan ke sumur bor warga yang makin dalam dan asin.
2. Moratorium dan reboisasi bukit. Hentikan dulu alih fungsi lahan di daerah tangkapan air. Wajibkan setiap vila memiliki sumur resapan dan menanam kembali.
3. Operasi debu. Kerahkan mobil penyiraman setiap hari di jalur-jalur wisata selama musim kemarau dan pembangunan. Tanam pohon peneduh yang cepat tumbuh di sepanjang jalan, bukan sekadar taman seremonial.
Mandalika tidak butuh lagi seremoni gunting pita. Ia butuh air mengalir dan jalan yang tidak berdebu.
Karena wisatawan mungkin masih memaafkan kamar yang sempit. Tapi mereka tidak akan pernah kembali ke tempat di mana untuk bernapas saja susah dan untuk mandi saja harus mengantre.
Praya, 7 Oktober 2026
Direktur FP4 NTB, Lalu Habiburrahman


