Banyak Negara Tarik Warga dari Timur Tengah, Eskalasi Konflik AS-Iran Memanas
Labulianews.id (28/2/2026)– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meroket seiring memanasnya hubungan AS-Iran. Sejumlah negara buru-buru perluas peringatan perjalanan, tarik keluarga diplomat, dan sarankan warganya tinggalkan kawasan rawan konflik.Pemerintah Australia memimpin langkah ini. Pada Rabu (25/2/2026), Canberra meminta anggota keluarga diplomatnya segera tinggalkan Israel dan Lebanon, melansir The Guardian.
Kementerian Luar Negeri Australia juga tawarkan keberangkatan sukarela bagi keluarga diplomat di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Yordania, akibat "situasi keamanan yang memburuk".Negara lain ikut gerak cepat. Siprus, Jerman, India, Polandia, Serbia, dan Swedia minta warganya keluar dari Iran.
Singapura sarankan tunda perjalanan ke sana, sementara Brasil pekan lalu rekomendasikan warganya tinggalkan Iran dan Lebanon.
Pemicu: Pengerahan Militer AS dan Negosiasi Nuklir
Langkah-langkah ini muncul di tengah pengerahan besar-besaran pasukan AS ke Timur Tengah, menjelang pembicaraan krusial soal program nuklir Iran. Pemerintahan Presiden Donald Trump ancam "konsekuensi serius" jika Teheran tak beri konsesi besar.
Presiden AS tuduh Iran bangun ulang program senjata nuklir. Wakil Presiden JD Vance tegas: "Prinsipnya sederhana: Iran tidak boleh punya senjata nuklir." Menteri Luar Negeri Marco Rubio tambah, desakan Iran hindari bahas rudal balistik jadi "masalah besar".Iran balas tuding Trump sebarkan "kebohongan besar" dan harap negosiasi buka jalan kesepakatan.
Dampak ke Penerbangan Global
Eskalasi ini guyur sektor aviasi. Maskapai Belanda KLM tunda penerbangan Amsterdam-Tel Aviv mulai 1 Maret, sebab rute itu tak "layak secara komersial maupun operasional", kata Air France KLM.
Langkah kolektif ini tunjukkan kewaspadaan global terhadap potensi konflik AS-Iran yang bisa guncang stabilitas Timur Tengah.
Sumber: CNBC Indonesia.

